Sabtu, 11 Februari 2017

Secangkir Rindu

Hasil gambar untuk secangkir kopi Jika rindu itu ibarat kopi,maka yang kuteguk adalah kopi tanpa gula.

aku sudah berulang kali bertemu sebuah kata bernama "RINDU". dia berada pada posisinya,tidak pernah berubah. dengan berbagai macam rupa dan rasa,beberapa mirip kopi yang ku seduh malam hari.
dalam sebuah cangkir yang terbatas isinya,seperti RINDU yang memiliki batas volumenya. perasaan itu seperti bubuk kopi asli yang kudapatkan dari mereka yang mencintai kopi sebagai teman. aku mengerti kini,mengapa RINDU bisa kusebut sebagai secangkir kopi tanpa gula.

saat ku menuangkan perasaan,perasaan yang bisa berhamburan tak tentu arah. ibarat bubuk kopi yang bisa saja berhamburan terkena angin. dalam cangkir yang menjadi wadah bernama hati,aku berusaha memastikan perasaan itu tidak salah takaran. ingin ku menyesapi perasaan tersebut,ku tuangkan harapan,ia mengepulkan asap yang menghangatkan jiwa. jiwa yang terlalu lama berjalan tanpa istirahat,tanpa meneguk ketenangan. saat perasaan dan harapan tersebut teraduk menjadi satu yang katanya menghasilkan sebuah cita rasa tersendiri. aku lupa perasaan dan harapan itu belum terbalas oleh kata cinta.
Hasil gambar untuk secangkir kopi
pagi ini bisakah aku menyesapi perpaduan perasaan dan harapan itu..??
jika bisa,apakah kau mau membagi sejumput gula yang kusebut itu cinta..??

pagi ini aku menghabiskan secangkir kopi tanpa sejumput gula. rasanya,hanya pahit yang tidak bisa dijelaskan dengan apapun.
semua perpaduan yang ku teguk pagi itu,seperti rinduku yang tak akan pernah terbalas oleh dirimu.
secangkir kopi,yang selalu setia menemani penikmatnya sekalipun rasanya tidak karuan.

Hasil gambar untuk secangkir kopi saat hujankini biarkan aku menikmati pahitnya kopi ini.
kopi ini sudah nikmat bagiku,walau tanpa sejumput gula untuk menggenapi rasanya. akan kunikmati kopi ini dalam suasana apapun,tetapi aku lebih senang saat hujan. saat dimana semua orang berfikir kopi dan gula memang sudah ditakdirkan selalu bersama.

aku dan secangkir rindu. rindu tak berbalas,rindu yang tak tergenapi. perpaduan perasaan dan harapan yang teraduk sempurna oleh situasi.

semoga kau tak pernah merasakan seperti apa kopi tanpa sejumput gula,seperti apa rasanya menyesapi kopi tersebut.

salam dari aku,
yang menerima secangkir kopi saat hujan..

Rabu, 06 April 2016

Aku Kehilangan Sosokmu

Kepada : Kamu yang dulu sangat aku rindukan

salam rindu,
aku merindukan canda tawamu dan semua hal konyol itu.
aku merindukan kamu yang menyebalkan,tetapi sangat menghibur.
aku merindukan dirimu yang dulu.

apa kau merasakan ada celah antara kita kini,celah itu kini terbangun sebuah dinding.
dinding itu hanya tidak menutupi seluruh halaman hatimu,bahkan aku sering bermain-main disana.
sayang halaman itu kini sepi,tidak banyak bunga atau angin sepoi yang menenangkan.
aku sering mencoba memanjat dinding itu,tapi ya itu aku hanya mampu melongok tidak jelas ke halaman itu.

jujur,aku memang suka kesal dengan tingkah menyebalkanmu itu.
tetapi sekarang aku seperti merindukan jiwa yang sedang pergi entah kemana,jiwa yang dulu berhasil membuat aku tak bisa marah dalam waktu yang lama.

apakah jiwamu itu sedang berkelana mencari peraduan yang lebih nyaman ? Terkadang aku seperti menunggu kereta yang lewat dijalan raya.
apakah aku boleh berkata bahwa aku lelah terus berkutat dengan dunia yang sedang berkonspirasi dengan kemungkinan buruk ?
apakah kita akan bertemu di jalan yang sama saat menuju tempat yang sama ?

aku ulangi..
Aku merindukan canda tawamu dan segala sikap menyebalkanmu.
bukan kamu yang kaku seperti sekarang,seperti baru saja kenal.

Hufftttt...
Aku merindukan kamu yang menyebalkan itu..

Dari aku,
Yang selalu menanti jiwamu yang dulu. Jiwa yang menyebalkan namun ku rindukan..

Rabu, 30 Maret 2016

Entah

gue mau nulis apa ya ?
bingung..
gamang..
sedih..
kecewa..

Gak tau lah namanya apaan,gak tau rasa yang jelasnya kayak gimana..
Yang gue tau cuma pingin nangis terus teriak kenceng sambil yaaa palingan memaki "sedikit"

Kenyang,ditipu mentah-mentah. Sabarnya gue dianggep kesempatan,marahnya gue dipakai sebagai pelarian.

Mungkin,gue masih sanggup memaaf kan catatan dulu. Khusus yang ini,kek nemuin pengulangan gitu. Pengulangan di kecewain.

Ada maaf yang diiringi kesempatan kedua,ada juga maaf yang tak harus disertai dengan kesempatan kedua.

Entah,saya membenci moment ini. SANGAT SANGAT MEMBENCI MOMENT INI.. 

Gak tau harus nyalahin siapa,mungkin nyalahin diri sendiri aja kali ya. Iya salah gue,bego aja gampang percaya. Padahal salah satu temen kampus gue ada yang bilang,iya kamu terlalu setia makanya sering disakitin cowok *khusus kutipan ini dari Agus,lo beneran nampar kenyataan gue sekarang. Thanks*

Gak tau lah,capek saya. Mending di tinggal mati kayaknya. Dari pada udah terlanjur sayang malah dikhianatin. Yaa setidaknya kalo mati emang raganya gak ada,jiwanya akan selalu ada. Cuma kalo udah di khianatin begini,entah lah males komen gue.

hela nafas..

hela nafas lagi..

hela nafas lagi..

dan entah..