Rabu, 25 Juni 2014

Vioris Bukan Fairish part IV

Mereka sampai disalah satu booth foto di festival itu,Marcell mengajak Vio berfoto dengan menggunakan pakaian Jepang dan Korea. Vio canggung saat mengenakan pakaian Jepang,apalagi untuk berfoto dengan Marcell. Marcell tersenyum manis saat berfoto dengan Vio,jujur saja Marcell mengakui kecantikan Vio tanpa make up di foto tersebut. Selesai berfoto-foto mereka melanjutkan perjalanan keliling festival tersebut.
“Vi,lo mau pulang gak..??”
“iya niih,kaki gue juga udah pegel. Balik aja yuk”
“nyari oleh-oleh dulu deh,gue mau beli sesuatu”
“hmm.. ya udah cepetan,kaki gue sakit”
“iya sebentar kok,kan deket dari pintu keluar standnya”
“bagus lah kalo begitu,yuk ah cepetan”
Mereka pergi menuju pintu keluar,tetapi sebelumnya mereka manpir ke salah satu stand di dekat pintu keluar.
“Cell ini lucu banget,hmm banyak barang lucu”
“lo mau beli apa..??”
“gak kok,dah lo mau beli apa..??”
“bentar ya,gue tanya SPGnya dulu”
“oh ok,gue tunggu disini aja sambil mau liat-liat”
Marcell bergegas menghampiri SPG di stand tersebut,stand tersebut belum terlalu ramai karena kunjungan di batasi hanya bagi mereka yang mendapatkan promosi dari sponsor acara.
“mbak,kemaren kan saya udah pesen ya. Barangnya mana ya..??”
“oh mas yang kemaren pesen pernak pernik sama jaket ya,sebentar ya saya ambilkan dulu” ujar SPG tersebut
SPG tersebut mengambil barang pesanan Marcell di bawah meja kasir,sedang asyik menunggu barang pesanannya diambil Marcell melihat-lihat anting yang dipajang di sudut stand. Dilihatnya anting tersebut,lucu dan manis. Tiba-tiba Vio mengagetkannya yang sedang melihat anting-anting tersebut.
“hayoo.. lagi ngapain”
“ih elo tuh,enggak. Nih gue lagi liat anting,lucu deh. Coba deh lo pake”
“kan belom dibayar,masa iya gue pake”
“gak dipasang juga,caranya nih begini aja” sambil mempraktekkan menempelkan anting tersebut ke telingan Vio
“gue liat di kaca dulu ya” ucap Vio sembari bergegas pergi ke kaca untuk melihatnya
“gimana,lucu kan Vi..??”
“iya lucu,gue mau beli ah”
“itu satu set lho Vi. Ada kalung,gelang sama cincinnya. Lo mau beli..??”
“harganya berapa ya Cell”
“mas ini pesanannya” seru SPG
“oh iya mbak,sebentar. Yuk sambil tanya harganya berapa”
Marcell dan Vio menghampiri kasir,Vio masih menggenggam anting tersebut.
“mbak,aksesoris ini berapa harganya” tanya Vio
“oh itu yang satu set ya mbak,yang disebelah sana kan..??”
“iya yang disebelah sana”
“coba saya cek kode barangnya dulu,bisa saya lihat mbak”
“oh iya ini”
Petugas kasir tersebut mencek kode barang aksesoris yang ditanyakan Vio.
“oh ini harganya dua ratus lima puluh mbak”
“hmm dua ratus lima puluh ya” ucap Vio lesu sembari pergi kembali meletakkan anting tersebut ke tempatnya
“mbak,itu saya aja yang bayar. Masukin jadi satu sama barang pesanan saya,kan yang disana warna merah saya minta yang warna putih ada kan. Jadi harganya berapa..??”
“ada mas,harganya jadi satu juta”
“hmm nih” sembari memberi kartu debitnya
Selesai dengan urusan barang pesanan dan aksesoris satu set,mereka pulang.
                Selama perjalanan mereka kembali saling diam,tanpa membuka pembicaraan sedikitpun. Terasa dingin saat itu,seakan ada tembok tinggi diantara mereka. Vio hanya bernyanyi sepanjang perjalanan pulang saat mendengar lagu yang diputar di radio. Setelah hampir dua jam menempuh perjalanan,mereka sampai di depan rumah Vio.
“Ok kita udah nyampe,maaf ya gue bawa lo maen sampe jam tujuh begini”
“iihh biasa aja kali Cell,thanks lho udah ngajak gue jalan-jalan. Gue tunggu fotonya”
“oh iya,ni makanan lo. Ketinggalan entar jauh dong gue baliknya”
“hahaha,iya sampe lupa. Ok deh gue masuk dulu,hmm lo juga besok jangan lupa ibadah. Gue tau lo badung kalo masalah ibadah”
“ok ok,bye Vi”
“bye”
Marcell melaju dengan kendaraannya,sedangkan Vio masuk ke dalam rumah.
                “Vio pulang” ucap Vio sambil membuka pintu
“ciieee yang dianterin cowok,keren lho dek cowoknya. Kok mbak gak pernah liat dia ya” celetuk Dephien
“hiih apa sih mbak,orang dia temen ku kok”
“halah,kayaknya Vio punya calon tuh om” celetuk Fadhli
“biar lah,kan jadi cepet nyusul kamu orang” jawab Papa
“tuh kan papa,anak sendiri aja gak dibelain”
“oh iya Vi,kok temennya gak disuruh mampir dulu” sahut mama
“kalian nih,berkomplotan buat ngejek aku”  sembari pergi ke dapur
Mama,papa,Fadhli dan Dephien tertawa melihat Vio ngambek dengan segala cemberutnya. Di dapur mbak Ine juga ikutan menggoda Vio.
“ciieee non Vio,bentar lagi dapur yang nunggu non Vio deh”
“apa sih mbak Ine,oh iya mbak. Mau gak..?? aku tadi beli waktu ke festival”
“apa ini non..?? kok mentah semua..??”
“sushi.. bukan susi similikiti weleh weleh”
“hahaha,non ini lah ada-ada aja lho”
“dah tuh buat mbak Ine aja,jangan bagi ke mas Fadhli atau siapapun”
“iya non,terima kasih ya non”
Vio kembali ke kamarnya,meninggalkan mbak Ine yang sedang girang diberi sushi maklum lah Vio termasuk jarang jajan diluar.
                Selama di kamar,Vio membayangkan aktifitasnya saat di festival tadi. Dari makan sushi,berfoto dengan busana Jepang dan Korea hingga membeli sepatu kets. Dan astaga..!! paper bagnya tertinggal di mobil Marcell.
“aduh kenapa paper bag gue ketinggalan di mobil Marcell. Oh no..!!”
Vio mencari ponselnya dan segera menghubungi Marcell untuk menanyakan apakah paper bagnya tertinggal di mobilnya.
“halo..”
“halo,Cell ni gue Vio”
“iya gue tau, ada apaan..?? mau tanya paper bag”
“iyaa”
“ada,besok gue bawain. Dah dulu ya,gue mau tidur. See you tomorrow,nite”
Sambungan telpon langsung terputus,Vio masih terbengong di tempat tidurnya mendengar secepat itu Marcell berbicara. Selesai dari bengongnya,Vio langsung bergegas tidur karena sudah merasa lelah beraktifitas seharian.
                Keesokan harinya,masih saja Vio digoda sang papa tentang Marcell. Sang mama hanya geleng-geleng kepala melihat ulah usil suaminya kepada anaknya.
“Vio,kemarin siapa sih. Kok gak disuruh mampir sih,kan papa pingin tau pacar kamu”
“hiihh papa keponya mulai deh,dia tu temen sekelas pa. kebetulan aja kemarin aku diajak main sama dia”
“kata mbak Dephien ganteng banget ya” ucap mama
“gak ma,cantik banget tau” jawab Vio kesal
“hehehehehe,kamu tuh gak bisa diajak becanda deh”
Tiba-tiba ponsel Vio berdering,dan di layar LCDnya terpampang nama Marcell. Vio segera minggir dari meja makan dan menuju taman belakang rumah.
“halo kenapa Cell”
“gue anterin abis ke gereja ya,lo gak pergi kemana-mana kan..??”
“gue sih kayaknya dirumah,tapi gak tau kalo nanti siang. Tapi kalo lo jelas mau kesininya jam berapa gue bisa aja sih nungguin”
“hmm.. gimana ya,yang namanya pemberkatan kan pasti lama. Dan pestanya sekalian di gereja,apa lo yang kesini aja”
“tau kan seberapa keras bokap gue,dah lah lo aja yang kesini,gue gak bakal diizinin dateng ke gereja”
“ya udah,gue kerumah lo sekarang”
“haaa..!!! sekarang”
“iya lah,kenapa..?? lo belom mandi yaa”
“enak aja,emang elo. Ya udah cepetan anterin paper bag gue yang isinya sepatu kets itu. Gue mau pake waktu nonton off airnya Mooi Meisje”
“lo suka grup itu juga. Kalo gue sukanya sama Knappe Man,lo pasti tau deh”
“iya gue tau,tu kan versi cowoknya. Gue udah dapet tiket off air mereka”
“gue juga,ya udah gue anter pas mau nonton aja. Kita berangkat bareng”
Astaga..!! tu anak ya,bikin gue makin sakit “kita liat aja besok ya”
“ok..!! eh udah dulu ya,gue mau berangkat ke gereja dulu,dan lo jangan lupa sholat”
“iya berisik lo”

Sambungan telpon terputus tiba-tiba,dan Vio kembali kaget karena suara telpon terputus. Vio kembali ke meja makan,tatapan mama dan papanya memasang muka menggoda kepo abg. Vio langsung membuka piring dan mengambil nasi dan memulai sarapannya.

Kamis, 19 Juni 2014

Percakapan Singkat Di Ujung Pulau

Suatu sore yang indah..

“apa kau akan menunggunya disini sampai dia mendatangimu”
“ya aku akan menunggunya,walaupun aku tau itu menyakitkan hatiku”
“lalu kenapa kau tidak pergi saja,kan belum tentu dia akan datang kepadamu dengan membawa kebahagian”
“bukan itu yang aku takutkan”
“lalu..??”
“aku hanya takut dia tidak bahagia jika ku tinggalkan”
“jaminan apa dia tidak bahagia saat kau tinggalkan”
“kau bisa tatap matanya,disana ada kejujuran yang disembunyikan rapat-rapat dalam batinnya. Dan kau perhatikan setiap ucapannya,pasti ada kata tertahan di lidahnya”
“hmm.. kalau begitu mengapa kau tidak mendatanginya saja”
“sudah sering bahkan setiap menit aku berada disampingnya”
“dia tidak menganggapmu..??”
“bukan.. dia terlalu rapuh untuk melihatku berdiri disampingnya,aku tidak ingin dia menjadi orang lemah”
“serapuh itukah dia..?? aku yakin dia membutuhkanmu disetiap waktunya,walau hanya sekedar berbagi sedikit kekesalannya”
“aku tidak tau,setiap ku datangi yang ada hanya lamunan malam dalam sepinya dia”
“sepedih itukah jalan hidupnya..?? oh pasti dia pernah membuatmu terluka”
“yaa kau memang terluka,tapi ada hal yang aku sadari sekarang setelah dia tidak bisa melihatku lagi”
“apa..??”
“ketulusan itu terasa,bukan disaat keramaian. Tapi disaat dia sedang sendiri,gelap dan sepi. Ketulusan itu yang menemaninya”
“apakah kau merasakan hal itu seperti kau tau dia merasakan ketulusan itu disaat malam”
“aku merasakannya,disetiap dia meminta kepada Tuhan. Setidaknya dia bisa memilikiku walau hanya dalam fikirannya”
“hmm.. semoga dia sanggup melangkah esok hari,meskipun itu tidak mudah”

“semoga..”

diapun pergi dan takkan kembali..

Rabu, 18 Juni 2014

Puisi Di Ujung Jalan

Masih sanggup menatapnya dalam setiap mimpi
Masih sanggup tersenyum dalam getirnya kenyataan
Tapi ada perasaan terenyuh yang menyiksa
Membuat air mata menetes seketika

Sekuat apa hatimu menerima kenyataan itu
Sesanggup apa kau melangkah dalam langkah tertatih
Jika kau tinggal jiwamu dalam sudut hati yang sunyi
Sudut hati yang gelap,dingin dan menyakitkan

Tariklah nafas mu perlahan,nikmati dan lepaskan
Adakah beban di hatimu yang masih mengganjal
Beban yang masih membuatmu menangis setiap malam
Beban yang masih kau sembunyikan dari dunia

Berdirilah sayang,dunia ini terlalu luas untuk kau tinggalkan
Tataplah mentari senja itu,yakinkan dirimu sendiri
Aku bahagia dalam bayang jiwamu
Bayang yang akan mengikuti setiap langkah kakimu

Melangkahlah dengan keyakinanmu itu
Jangan menoleh kebelakang walau hanya sekejap mata
Ku tahu kakimu terasa berat saat melewatinya
Tapi ini jalan terbaik yang Tuhan berikan

Kau ku nanti di ujung jalan yang memisahkan kita
Ujung jalan yang menghubungkan kehidupan dan kematian
Aku dapat melihatmu dalam setiap waktumu
Tapi ku tahu kau tak dapat menatapku

Aku masih duduk manis disini,di ujung jalan itu
Membawa mawar putih yang akan ku berikan kepadamu
Akan ku sambut kau dengan senyumku sesuai permintaanmu
Bukan air mata yang kau larang dulu


*in memoriam 16-18 April 2012